PENYAKIT
HIRSCHSPRUNG
PENDAHULUAN
Pada tahun 1888
Hirschsprung melaporkan dua kasus bayi meninggal dengan perut gembung oleh
kolon yang sangat melebar dan penuh massa feses. Penyakit ini disebut megakolon
kongenitum dan merupakan kelainan yang tersering dijumpai sebagai penyebab
obstruksi usus pada neonatus. Pada
penyakit ini pleksus mienterikus tidak ada, sehingga bagian usus yang bersangkutan
tidak dapat mengembang.(1,7)
Insidensi
penyakit Hirschsprung tidak diketahui secara pasti, tetapi berkisar 1 diantara
5000 kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan tingkat
kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1400 bayi
dengan penyakit Hirschsprung. Laki-laki lebih sering daripada perempuan. (3,7)
Penyakit Hirschsprung merupakan
kelainan perkembangan sistem saraf enterik dan ditandai oleh tidak adanya sel
ganglion pada kolon distal sehingga menyebabkan obstruksi fungsional. Penyakit
Hirschsprung sebaiknya dipertimbangkan pada neonatus yang gagal mengeluarkan
mekonium dalam 24-48 jam setelah dilahirkan. Meskipun enema kontras berguna
dalam membantu menegakkan diagnosis, biopsi rektal full thickness tetap
merupakan kriteria standar. Begitu diagnosis ditegakkan penanganan dasar adalah
mengeluarkan usus aganglionik yang berfungsi buruk dan membuat anastomosis ke
rektum distal dengan usus yang memiliki inervasi yang baik. .(1,7)
DEFINISI
Hirschsprung
merupakan kelainan congenital berupa aganglionosis usus, mulai dari sfingter
anal internal ke proksimal dengan panjang segmen tertentu. Jika hanya mengenai
rectum sampai sigmoid, dinamakan hirschsprung klasik atau morbus hirschsprung
segmen pendek. Jika meluas ke segmen yang lebih tinggi lagi disebut hirschprung
segmen panjang Jika mengenai seluruh kolon disebut aganglionik total atau jika
mengenai usus halus disebut aganglionik universal. Kelainan yang terjadi pada
penyakit hirschsprung adalah tidak adanya gelombang paristaltik dan gagalnya
relaksasi sfinter ani internal ketika terjadi dilatasi usus di proksimal.
Manifestasi klinis penyakit ini
berupa gangguan fungsional pasase gastrointestinal yang mengakibatkan staknan
dari isi usus. Dan yang paling ditakuti dari penyakit ini adalah komplikasi
yang timbul akibat obstruksi dan bisa menyebabkan kematian. (1,7,8)
EPIDEMIOLOGI
penyakit hirschprung adalah
penyebab obstruksi usus bagian bawah yang paling sering pada neonatus,
diperkirakan satu diantara 5000-10000 kelahiran. Laki-laki lebih sering
daripada perempuan. Penyakit hirschprung mungkin disertai dengan cacat bawaan
lain termasuk sindrom down, sindrom Laurence-Moon-Barder-Biedl, dan sindrom
Waardenburg serta kelainan kardiovaskular. (2,3)
ETIOPATOGENESA
Untuk mengetahui penyebab
terjadinya penyakit Hirschsprung diperlukan pemahaman yang mendalam perihal
perkembangan embriologis sistem saraf intestinal. Sel-sel krista neuralis
berasal dari bagian dorsal neural tube yang kemudian melakukan migrasi
keseluruh bagian embrio untuk membentuk bermacam-macam struktur termasuk sistim
saraf perifer, sel-sel pigmen, tulang kepala dan wajah serta saluran saluran
pembuluh darah jantung. Sel-sel yang membentuk sistim saraf intestinal berasal
dari bagian vagal krista neuralis yang kemudian melakukan migrasi ke saluran
pencernaan. Sebagian kecil sel-sel ini berasal dari sakral krista neuralis untuk
ikut membentuk sel-sel saraf dan sel-sel glial pada kolon. Selama waktu migrasi
disepanjang usus, sel-sel krista neuralis akan melakukan proliferasi untuk
mencukupi kebutuhan jumlah sel diseluruh saluran pencernaan. Sel-sel tersebut
kemudian berkelompok membentuk agregasi badan sel. Kelompok-kelompok ini
disebut ganglia yang tersusun atas sel-sel ganglion yang berhubungan dengan sel
bodi saraf dan sel-sel glial. Ganglia ini kemudian membentuk dua lingkaran
cincin pada stratum sirkularis otot polos dinding usus, yang bagian dalam
disebut pleksus submukosus Meissnerr dan bagian luar disebut pleksus
mienterikus Auerbach.
Secara embriologis sel-sel
neuroenterik bermigrasi dari krista neuralis menuju saluran
gastrointestinal bagian atas dan selanjutnya meneruskan kearah distal. Pada
minggu ke lima kehamilan sel-sel saraf tersebut akan mencapai esofagus,
pada minggu ke tujuh mencapai mid-gut dan akhirnya mencapai kolon pada minggu
ke dua belas. Proses migrasi mula pertama menuju ke dalam pleksus Auerbachi dan
selanjutnya menuju kedalam pleksus submukosa Meissneri. Apabila terjadi
gangguan pada proses migrasi sel-sel kristaneuralis ini maka akan
menyebabkan terjadinya segmen usus yang aganglionik dan terjadilah penyakit
Hirschsprung. (8)
GEJALA KLINIS
Gambaran klinis penyakit Hirschsprung dapat kita bedakan
berdasarkan usia gejala klinis mulai terlihat :
1) Periode Neonatal.
Ada trias gejala klinis yang sering dijumpai, yakni
1. pengeluaran mekonium yang terlambat,
2. muntah hijau dan
3. distensi abdomen.
Pengeluaran mekonium yang terlambat (lebih dari 24 jam
pertama) merupakan tanda klinis yang signifikans. Muntah hijau dan distensi
abdomen biasanya dapat berkurang manakala mekonium dapat dikeluarkan segera.
Sedangkan enterokolitis merupakan ancaman komplikasi yang serius bagi penderita
penyakit Hirschsprung ini, yang dapat menyerang pada usia kapan saja, namun
paling tinggi saat usia 2-4 minggu, meskipun sudah dapat dijumpai pada usia 1
minggu. Gejalanya berupa diarrhea, distensi abdomen, feces berbau busuk dan disertai
demam. (1,3,5,7,8)
2) Anak
Pada anak yang
lebih besar, gejala klinis yang menonjol adalah konstipasi kronis dan gizi
buruk (failure to thrive). Dapat pula terlihat gerakan peristaltik usus
di dinding abdomen. Jika dilakukan pemeriksaan colok dubur, maka feces biasanya
keluar menyemprot, konsistensi semi-liquid dan berbau tidak sedap. Penderita
biasanya buang air besar tidak teratur, sekali dalam beberapa hari dan biasanya
sulit untuk defekasi. (1,3,5,7,8)
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
I.
PEMERIKSAAN
RADIOLOGI
o Foto Polos Abdomen
Gambaran
radiologik foto polos abdomen memperlihatkan dilatasi usus, gambaran udara-air
intraluminar, tidak ada udara di daerah rectum dan massa mekonium yang
bertumpuk di dalam kolon. (4)
Berikut
foto polos abdomen penyakit hirschprung dengan proyeksi Anterior Posterior (AP)
dan lateral. (9)
1.
Proyeksi Anterior
Posterior (AP)
o Barium Enema
Pemeriksaan yang merupakan standard dalam menegakkan diagnosa
Hirschsprung adalah barium enema.
Pada pemeriksaan barium enema media kontras yang digunakan yaitu
turunan iodium (I). Teknik pemeriksaan enema barium dapat dilakukan dengan alat
suntik 50cc. Media kontras sebaiknya dilarutkan dengan garam fisiologik untuk
mencegah keracunan air dan disemprotkan perlahan-lahan. Apabila daerah transisi
telah kelihatan, pemeriksaan harus dihentikan. Klisma sebelum enema barium
tidak diperbolehkan untuk mencegah dilatasi semu pada segmen yang aganglionik. (4)
Pada pemeriksaan akan dijumpai 3 tanda khas :
1)
Tampak
daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya bervariasi;
2)
Terdapat
daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah daerah
dilatasi;
3)
Terdapat
daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi.
Selain itu, tampak juga lekukan-lekukan halus dinding usus bagian
dalam yang sering diinterpretasikan sebagai enterokolitis.
Apabila dari foto barium enema tidak terlihat tanda-tanda khas
penyakit Hirschsprung, maka dapat dilanjutkan dengan foto retensi barium, yakni
foto setelah 24-48 jam barium dibiarkan membaur dengan feces. Gambaran khasnya
adalah terlihatnya barium yang membaur dengan feces kearah proksimal kolon.
Sedangkan pada penderita yang bukan Hirschsprung namun
disertai dengan obstipasi kronis, maka barium terlihat menggumpal di daerah
rektum dan sigmoid.
Foto Kolon Barium Enema segera dilakukan
pada neonatus dengan gejala :
ü
Keterlambatan
pengeluaran mekonium
ü
Disertai abdomen
distended
ü
Muntah hijau(4,6,7)
I.
PEMERIKSAAN
PATOLOGI ANATOMI
Diagnosa histopatologi penyakit Hirschsprung didasarkan atas
absennya sel ganglion pada pleksus mienterik (Auerbach) dan pleksus
sub-mukosa (Meissner). Disamping itu akan terlihat dalam jumlah banyak
penebalan serabut syaraf (parasimpatis). Akurasi pemeriksaan akan semakin
tinggi jika menggunakan pengecatan immunohistokimia asetilkolinesterase,
suatu enzim yang banyak ditemukan pada serabut syaraf parasimpatis,
dibandingkan dengan pengecatan konvensional dengan haematoxylin eosin.
Swenson pada tahun 1955 mempelopori pemeriksaan histopatologi dengan eksisi
seluruh tebal dinding otot rektum, untuk mendapatkan gambaran pleksus
mienterik. Secara tekhnis, metode ini sulit dilakukan sebab memerlukan anastesi
umum, dapat menyebabkan inflamasi dan pembentukan jaringan ikat yang
mempersulit tindakan bedah definitif. Noblett tahun 1969 mempelopori tekhnik
biopsi hisap dengan menggunakan alat khusus, untuk mendapatkan jaringan mukosa
dan sub-mukosa sehingga dapat melihat keberadaan pleksus Meissner. Metode ini
kini telah menggantikan metode biopsi eksisi sebab tidak memerlukan anastesi
dan akurasi pemeriksaan mencapai 100%. Biasanya biopsi hisap dilakukan pada 3
tempat : 2,3,dan 5 cm proksimal dari anal verge. Apabila hasil biopsi hisap
meragukan, barulah dilakukan biopsi eksisi otot rektum untuk menilai pleksus
Auerbach. (3,5,7)
II.
MANOMETRI ANOREKTAL
Pemeriksaan manometri anorektal adalah suatu pemeriksaan objektif
mempelajari fungsi fisiologi defekasi pada penyakit yang melibatkan spinkter
anorektal. Manometri anorektal mengukur tekanan sfingter ani interna saat balon
dikembangkan di rektu. Pada individu normal penggembungan rectum mengawali
reflex penurunan tekanan sfingter interna. Pada penyakit hirschprung, tekanan
gagal menurun, atau ada kenaikan tekanan paradoks karena rectum dikembungkan.
Ketepatan uji diagnostic lebih dari 90%, tetapi secara teknis sulit pada bayi
muda. Dalam prakteknya, manometri anorektal dilaksanakan apabila hasil
pemeriksaan klinis, radiologis dan histologis meragukan.
Beberapa hasil manometri
anorektal yang spesifik bagi penyakit Hirschsprung adalah :
1.
Hiperaktivitas
pada segmen yang dilatasi;
2.
Tidak
dijumpai kontraksi peristaltik yang terkoordinasi pada segmen usus aganglionik;
3.
Sampling
reflex tidak berkembang. Tidak
dijumpai relaksasi spinkter interna setelah distensi rektum akibat desakan
feces. Tidak dijumpai relaksasi spontan. (3,7)
PENATALAKSANAAN
Prinsip penanganan adalah mengatasi obstruksi, mencegah terjadinya
enterokolitis, membuang segmen aganglionik, dan mengembalikan kontinuitas usus.
(1)
Penatalaksanaan penyakit hirschprung dilakukan dengan :
A.
Tindakan
Bedah Sementara
Tindakan bedah sementara pada penderita penyakit Hirschsprung
adalah berupa kolostomi pada usus yang memiliki ganglion normal paling distal.
Tindakan ini dimaksudkan guna menghilangkan obstruksi usus dan mencegah
enterokolitis, peritonitis, sepsis sebagai salah satu komplikasi yang
berbahaya. Manfaat lain dari kolostomi adalah : menurunkan angka kematian pada
saat dilakukan tindakan bedah definitif dan mengecilkan kaliber usus pada
penderita Hirschsprung yang telah besar sehingga memungkinkan dilakukan
anastomose, dan menjamin pasase usus. (2,7)
B. Tindakan Bedah Definitif
Tindakan bedah definitif dilakukan dengan membuang segmen aganglionik dan mengembalikan kontinuitas usus. Tindakan ini dilakukan bila berat badan bayi sudah cukup (9 Kg). Pada waktu itu megakolon dapat surut, mencapai kolon ukuran normal. Pada operasi definitif dapat dipakai cara Swenson, Duhamel, Soave, atau modifikasi dari teknik-teknik tersebut. Tindak bedah menurut Swenson terdiri dari rektosigmoidektomi seluas bagian rektosigmoid aganglionik dengan anastomosis koloanal. Pada cara Duhamel dan Soave bagian distal rektum tidak dikeluarkan sebab merupakan fase operasi yang sukar dikerjakan; anastomosis koloanal dibuat secara tarik terobos (pull through). (1,2)
KOMPLIKASI
Secara garis besarnya, komplikasi pasca tindakan bedah penyakit
Hirschsprung dapat digolongkan atas kebocoran anastomose, stenosis,
enterokolitis dan gangguan fungsi spinkter. Sedangkan tujuan utama dari setiap
operasi definitif pull-through adalah menyelesaikan secara tuntas
penyakit Hirschsprung, dimana penderita mampu menguasai dengan baik fungsi
spinkter ani dan kontinen. (7)
PROGNOSA
Prognosis penyakit hirschprung yang diterapi dengan bedah umumnya
memuaskan; sebagian besar penderita berhasil mengeluarkan tinja (kontinensia).
Masalah pascabedah meliputi enterokolitis berulang, striktur, prolaps, abses perianal,
dan pengotoran tinja. (1,3)
No comments:
Post a Comment