BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
Plasenta previa merupakan
salah satu penyebab perdarahan ante partum yang terjadi pada kehamilan lanjut
(pada trimester III)
FREKUENSI
In the US: Placenta
previa terjadi pada 0.3-0.5% dari semua kehamilan. Resiko meningkat menjadi 1.5
sampai 5 kali pada wanita yang mempunyai riwayat cesar.
4. 1 DEFINISI
Plasenta previa adalah implantasi plasenta pada
segmen bawah rahim (SBR) yang menutupi sebagian atau seluruh bagian orifisium
uteri internum (OUI).2 Dari pengertian ini didapat dua hal yaitu :
-
implantasi
plasenta letak rendah
-
implantasi
plasenta sepanjang atau didepan orificium uteri internum3
4. 2 TIPE PLASENTA PREVIA3
Ada 4 tipe plasenta previa yaitu :
- tipe 1 : plasenta letak rendah
pinggir plasenta berimplantasi
di segmen bawah rahim
- tipe 2 : plasenta previa marginal
plasenta mencapai OUI tetapi
tidak menutup OUI
- tipe 3 : plasenta previa parsial
plasenta menutupi sebagian OUI
atau plasenta tidak menutupi OUI seluruhnya ketika berdilatasi
- tipe 4 : plasenta previa totalis
plasenta menutupi seluruh OUI
ketika berdilatasi penuh
Klasifikasi plasenta previa
ini didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir
pada waktu tertentu. Karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan
anatomik melainkan fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu.
Plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi
plasenta previa parsialis pada pembukaan 8 cm. Tentu saja observasi seperti ini
tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik.1
4. 3 EPIDEMIOLOGI
Insidens plasenta previa
sekitar 1 dari 500 kelahiran hidup dan yang terjadi pada trimester II (16-20
minggu) sekitar 5%. Sekitar 90% kejadian plasenta previa ini ditindaklanjuti
dengan terminasi per abdominam.3
Berdasarkan
data kelahiran di Amerika Serikat pada tahun 2001, kejadian plasenta previa
adalah 1 dari 305 persalinan (Martin and co workers, 2002). Sekitar 93.000 persalinan di Nova Scotia,
Crane dkk (1999) menemukan insidens 0,33 % (1 dari 300). Di Parkland Hospital,
insidennya adalah 0,26 % (1 dari 390) untuk lebih dari 169.000 persalinan
selama 12 tahun terakhir.4
Mortality/Morbidity: The perinatal mortality rate associated with placenta previa ranges
from 2-3%.
•
Age: Age is associated with a varying prevalence of placenta previa. The
risk of placenta previa in relation to age is as follows:
•
Aged 12-19 years - 1%
•
Aged 20-29 years - 0.33%
•
Aged 30-39 years - 1%
•
Older than 40 years - 2%
4. 4 ETIOLOGI 2
Penyebab pasti plasenta
previa masih belum bisa dipastikan. Beberapa hipotesis menyatakan bahwa kondisi
berikut berkaitan dengan terjadinya plasenta previa :
-
adanya jaringan parut pada endometrium (uterus),
seperti pada bekas operasi cesar atau aborsi.
-
Riwayat kehamilan yang berjarak dekat
-
Wanita yang berumur kurang dari 20tahun mempunyai
resiko paling tinggi. Resiko akan meningkat pada wanita diatas 30tahun.
-
plasenta yang besar seperti pada kehamilan kembar
(gemelli) atau erythroblastosis.
-
bentuk uterus yang abnormal
-
pembentukan plasenta yang abnormal
-
kemungkinan pada wanita yang merokok atau
menggunakan cocain
4. 5 PATOFISIOLOGI
Plasenta previa terjadi akibat gangguan implantasi
karena vaskularisasi endometrium yang abnormal yang terkait dengan atropi dan
scaring akibat trauma atau inflamasi. Hal ini menyebabkan implantasi embrio
pada segmen bawah rahim. Perumbuhan plasenta menyebabkan plasenta menutupi
cervix. Normalnya plasenta berimplantasi di fundus uteri dan aliran darah di
fundus lebih baik dari segmen bawah uterus. Adanya implantasi abnormal dapat diakibatkan
jaringan parut / skar pada uterus dan kerusakan pada uterus.3
Vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat
persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, dimana plasenta yang
letaknya normal akan memperluas permukaannya sehingga mendekati atau menutupi
sama sekali pembukaan jalan lahir.1
4. 6 FAKTOR RISIKO 3
- Riwayat operasi seksio sesaria sebelumnya (dihubungkan dengan kejadian plasenta akreta)
- paritas yang tinggi (multiparitas)
- usia ibu tua
- kehamilan kembar (gemelli)
- merokok (penggunaan tembakau)
- tindakan instrumentasi pada uterus
4. 7 GEJALA3
-
perdarahan
bercak pada timester pertama dan kedua
-
perdarahan
pervaginam pada usia kehamilan 27-32 minggu tanpa disertai nyeri (“Sentinel
bleed”), dengan warna darah merah terang, jumlahnya bervariasi dari perdarahan
sedikit sampai banyak. Hal ini dapat dipicu akibat hubungan seksual atau
kontraksi uterus.
-
Abdomen
lemas, tidak nyeri tekan
4. 8 SCREENING DAN DIAGNOSIS 1,2
Pada
setiap perdarahan ante partum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabnya
adalah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah.
Anamnesis
Perdarahan jalan lahir
pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa penyebab,
terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari
anamnesis melainkan dari pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan luar
Bagian terbawah janin
biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya
kepala masih terapung di atas pintu atas panggul atau mengolak ke samping dan
sulit didorong ke dalam pintu atas panggul. Tidak jarang tedapat kelainan letak
janin seperti letak lintang atau letak sungsang.
Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio porsionis
uteri, karsinoma poliposis servisis uteri, varises vulva, dan trauma. Apabila
perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus
dicurigai.
Penentuan letak plasenta tidak langsung
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung ini dapat dilakukan
dengan radiografi, radioisotop, dan ultrasonografi. Adanya
plasenta previa dapat dideteksi melalui USG selama kunjungan Ante Natal Care
atau setelah tejadinya perdarahan pervaginam.2
-
Diagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu :
Dengan pemeriksaan
ultrasonografi rutin (USG) keadaan plasenta letak rendah atau plasenta previa
dapat diketahui
-
Diagnosis setelah usia kehamilan 20 minggu :
Umumnya plasenta previa
ini akan terdiagnosis jika sudah terjadi perdarahan per vaginam. Dokter dapat
mengkonfirmasi melalui pemeriksaan abdominal ultrasonografi dan transvaginal
ultrasonografi. Pemeriksaan tambahan lain dapat dengan MRI (Magnetic
Resonance Imaging) dimana pemeriksaan ini tidak menggunakan radiasi
sehingga cukup aman bagi janin.2
Penentuan letak plasenta secara
langsung
Pemeriksaannya adalah
secara langsung meraba plasenta melalui kanalis servikalis. Namun pemeriksaan
ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Oleh karenanya
pemeriksaan ini dilakukan apabila penanganan pasif ditinggalkan dan ditempuh
penanganan aktif. Pemeriksaannya harus dilakukan dalam keadaan siap operasi.
Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi (PDMO) yaitu :
-
Perabaan fornises. Pemeriksaan ini hanya
bermakna bila janin dalam presentasi kepala. Sambil mendorong sedikit
kepala janin ke arah pintu atas panggul, perlahan-lahan seluruh fornises diraba
dengan jari. Perabaannya terasa lunak apabila antara jari dan kepala janin
terdapat plasenta, dan akan terasa padat / keras bila diantara jari dan kepala
janin tidak terdapat plasenta.
-
Pemeriksaan melalui kanalis servikalis. Apabila
kanalis servikalis telah terbuka, perlahan-lahan jari telunjuk dimasukkan ke
dalam kanalis servikalis, dengan tujuan meraba kotiledon plasenta.
4. 9 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tergantung
dari jumlah perdarahan uterus abnormal, apakah janin sudah viabel atau belum
untuk hidup diluar uterus, besarnya plasenta yang menutupi serviks, posisi
janin di dalam rahim, dan paritas.1
Pada
kehamilan awal, transfusi dapat diberikan untuk menggantikan kehilangan darah
ibu. Obat-obatan dapat diberikan untuk mencegah persalinan yang pre term, dan
memperpanjang masa kehamilan sampai mencapai 36 minggu.
Tindakan
operatif (seksio sesaria) merupakan penatalaksanaan pada kasus plasenta previa
ini karena dapat mengurangi risiko kematian ibu dan bayi.
Berdasarkan
usia kehamilan, ada dua tindakan yang dilakukan yaitu :
- Tindakan Ekspektatif 5
Tujuan : agar janin tidak
lahir prematur dan upaya diagnosis dilakukan secara non invasif.
· Syarat terapi ekspektatif :
-
kehamilan
pre term dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti
-
belum
ada tanda inpartu
-
keadaan
umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal)
-
janin
masih hidup
· Rawat inap, tirah baring dan berikan
antibiotika profilaksis
· Pemeriksaan USG untuk menentukan
implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi
janin.
· Perbaiki anemia dengan pemberian Sulfas
ferosus atau Ferous fumarat per oral 60 mg selama 1 bulan.
· Pastikan tesedianya sarana untuk melakukan
transfusi
· Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk
mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat dirawat jalan (kecuali rumah pasien
di luar kota atau diperlukan waktu > 2 jam untuk mencapai rumah sakit)
dengan pesan segera kembali ke rumah sakit jika terjadi perdarahan.
· Jika perdarahan berulang, pertimbangkan
manfaat dan risiko ibu dan janin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut
dibandingkan dengan terminasi kehamilan.
- Tindakan Aktif 5
· Rencanakan terminasi kehamilan jika :
- janin matur
- janin mati atau menderita anomali atau
keadaan yang mengurangi kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali)
- pada perdarahan aktif dan banyak, segera
dilakukan terapi aktif tanpa memandang maturitas janin.
· Jika terdapat plasenta letak rendah dan
perdarahan yang terjadi sangat sedikit, persalinan per vaginam masih mungkin
dilaksanakan. Jika tidak, tindakan melahirkan dengan seksio sesaria.
· Pemilihan cara persalinan tergantung dari
derajat plasenta previa, paritas, dan banyaknya perdarahan. Persalinan per
vaginam dapat dilakukan pada multigravida dengan plasenta letak rendah,
plasenta previa marginalis, atau plasenta previa parsialis pada pembukaan lebih
dari 5 cm yang dapat ditanggulangi dengan pemecahan selaput ketuban. Persalinan
per vaginam bertujuan agar bagian terbawah janin menekan plasenta dan bagian
plasenta yang berdarah selama persalinan berlangsung, sehingga perdarahan
berhenti. Apabila pemecahan selaput ketuban tidak berhasil, dapat dilakukan
cara lain dengan pemasangan cunam Willett dan versi Braxton –Hicks.1
· Jika persalinan dengan seksio sesaria dan
terjadi perdarahan dari tempat plasenta :
- jahit tempat perdarahan
- pasang infus oksitosin 10 IU dalam 500 ml
cairan intravena (NaCl atau RL) dengan kecepatan 60 tetes per menit
· Jika perdarahan terjadi pasca persalinan,
segera lakukan penanganan yang sesuai (ligasi arteri atau histerektomi)
Dengan penanganan yang baik
seharusnya kematian ibu karena plasenta previa rendah sekali, atau tidak ada
sama sekali. Sejak diperkenalkannya
penanganan pasif pada tahun 1945, kematian perinatal berangsur-angsur dapat
diperbaiki. Walaupun demikian, hingga kini kematian perinatal yang disebabkan
prematuritas tetap memegang peranan
utama.
KESIMPULAN
Diagnosis pada kasus ini sudah tepat karena dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan perdarahan pervaginam berwarna merah
segar yang jumlahnya makin bertambah dibanding perdarahan sebelumnya tanpa
disertai rasa mules dan bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul
(PAP).
- penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat yaitu dilakukan terminasi per abdominam
- kemungkinan penyebab plasenta previa pada kasus ini adalah .....
- prognosis ibu dan janin pada kasus ini adalah dubia.
- Wiknjosastro, H. Perdarahan Ante partum. Ilmu Kebidanan Edisi ke-3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002. p 365-376.
- Thompson, Sharon. Placenta Previa. Department of Obstetrics and Gynecology Brigham and Women’s Hospital Boston : Verimed Healthcare Network. 2005. Available from : http://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/ency/article/000900.htm (diakses 7 Oktober 2006)
- Moses, Scott. Placenta Previa. 2006. Available from : http://www.fpnotebook.com/OB14.htm. (diakses 7 Oktober 2006)
- Cunningham, Gary et al. Williams Obstetrics 22nd Edition. United States : McGraw-Hill Company. 2005. p 820
- Saifuddin, Abdul. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.
No comments:
Post a Comment