BAB I
PENDAHULUAN
Tumor laring adalah suatu tumor jinak pada pita suara, kotak suara
(laring) atau daerah laring di
tenggorokan. Bisa dijumpai pada
anak-anak usia dibawah 7 tahun dan pada dewasa usia 20-40 tahun. Pada anak-anak
perbandingan antara laki-laki dan perempuan sama banyak, sedangkan pada dewasa
lebih sering dijumpai pada laki-laki dari pada perempuan dengan perbandingan
4:1. Predisposisi pada dewasa sering merokok, peminum alkohol dan terkena
paparan sinar radio aktif. (1,4,5,15)
Adapun etiologi dari tumor ini belum dapat diketahui dengan jelas.
Untuk mengetahui adanya tumor dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium
darah rutin dan foto thoraks yang mana dapat menilai keadaan paru, adanya
proses spesifik dan metastasis. Foto jaringan lunak leher dari lateral dan
tomografi komputer dapat menilai keadaan tumor serta pemeriksaan patologi
anatomi. Untuk diagnosis pasti dapat dilakukan dengan biopsi langsung atau
biosi jarum halus kelenjar limfe leher.(4,14)
Tumor ini dapat menimbulkan gejala yang
paling sering dijumpai adalah suara serak, sesak nafas, stridor dan batuk juga dapat
ditimbulkan. Pada anak-anak afonia atau suara tangis yang lemah merupakan tanda
pertama.(1,4,5,6,7,9,11,13,14,15)
Prognosis
dari tumor ini 90% baik bila dapat diketahui dengan cepat dan jangka waktu
pengobatan 5 tahun. Ada
3 cara penanggulangan yang lazim dilakukan yaitu pembedahan, radiasi obat
sitostatika ataupun kombinasi dari padanya, tergantung pada stadium penyakit
dan keadaan umum pasien. (1,4,14)
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI
LARING
Laring
merupakan bagian yang terbawah dari saluran nafas bagian atas. Bentuknya
menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas
lebih besar dari pada bagian bawah. Batas laring adalah aditus laring,
sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid.(1,2,9,15)
Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hioid, dan
beberapa buah tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U,
yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh
tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otot-otot ini akan menyebabkan
laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja
untuk membuka mulut dan membantu menggerakkan lidah. (1,2,9,15)
Laring dipersarafi oleh cabang – cabang nervus vagus, yaitu n. laringis
superior dan laringis inferior. Kedua syaraf ini merupakan campuran saraf
motorik dan sensorik.(2,3,9,15)
Perdarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu arteri
laringis superior dan arteri laringis inferior.(1,2,9,15)
Laring
berfungsi untuk proteksi , batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta
fonasi. Fungsi laring untuk prorteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda
asing masuk ke dalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima
glottis secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring ialah
karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik
laring. Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak ke depan akibat kontraksi
m.tiro-aritenoid dan m. aritenoid. Selanjutnya m. ariepiglotika berfungsi
sebagai sfingter. (1,2,9)
Penutupan rima glotis terjadi karena aduksi plika vokalis. Kartilago
aritenoid kiri dan kanan mendekat karena aduksi otot-otot instrisik. Selain itu
dengan reflek batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat
dibatukkan keluar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari
paru dapat dikeluarkan. Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur
besar kecilnya rima glotis. Bila m. krikoaritenoid posterior berkontraksi akan
menyebabkan prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga
rima glotis terbuka. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus
trakeobronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga
mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian laring berfungsi juga
sebagai alat pengatur sirkulasi darah. (1,2,9)
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu
gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringis dan mendorong
bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring.
Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi, seperti berteriak,
mengeluh, menangis dan lain-lain. (1,2,9)
Laring membuat suara tersembunyi serta menentukan fungsi rendahnya
nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh regangan plika vocalis. Bila plika vocalis
berada dalam keadaan aduksi maka muskulus krikotroid dapat merotasikan
kartilago turoid kebawah dan kemuka menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat
yang bersamaan muskulus krikoaritenoid posterior dapat menahan atau menarik
kartilago aritenoid kebelakang. Plika vokalis ini berada dalam keadaan yang
efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong
katilago aritenoid kedepan sehingga plika vokalis akan mengendor. Seperti
diketahui, peregangan pita suara yang akan menentukan tinggi rendahnya nada,
dengan demikian laring mempunyai fungsi untuk fonasi.(1,2,3,9)
DEFINISI
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI
BAB III
ISI
Papiloma laring adalah neoplasma jinak yang biasanya tumbuh pada pita suara
bagian
anterior atau daerah subglotik, dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau
aritenoid. (1,4,7,11,13,14,15)
ETIOLOGI
Etiologi
papoiloma laring hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi dari
penelitian diduga bahwa virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe 6 dan 11 berperan
terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga adanya hubungan antar infeksi HPV
genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak, hal ini dibuktikan dengan
adanya virus HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital, walaupun penemuan
diatas menunjukan peran infeksi virus pada papiloma laring. Tetapi ada fakor
lain yang berperan, mengingat papiloma ini dapat menghilang di saat pubertas.(11,13,14,15)
Teori lainnya
yang dikemukakan adalah teori faktor hormonal dan beberapa faktor penyebab
papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan hygene yang buruk. Infeksi
saluran nafas kronik dan kelainan imunologis.(13,14,15)
Papiloma laring dapat tergantung pada hormon, dimana akan beregresi saat
hamil atau pada pubertas, jika menetap hingga dewasa, cenderung kurang agresif
dan lebih lambat kambuh. (1,11)
Perubahan menjadi ganas tanpa radiasi adalah jarang dan biasanya terjadi
pada pasien tua dengan riwayat merokok dan papiloma yang lama. (1,4,5)
Dari 20 tipe HPV, tipe 6, 11 diduga
sebagai penyebab papilloma laring. Cara penyebaran yang pasti dari HPV sampai
saat ini belum jelas. Pada tipe juvenil diduga transmisi pada saat peripartum
dari seorang ibu yang terinfeksi “genital warts”. Pada orang dewasa, cara
transmisi virus dengan cara kontak seksual, 10% dari lelaki dan perempuan yang
berada masa ‘’sexual active” dengan dan tanpa gejala klinik, dijumpai adanya
infeksi laten HPV pada penis dan serviks.(13,15)
Tumor ini dapat
digolongkan dalam dua jenis:
1)
Papiloma
laring juvenil, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk
multipel dan mengalami regresi pada waktu dewasa.
2)
Pada orang dewasa biasanya
berbentuk tunggal, tidak akan mengalami resolusi dan merupakan prekanker.(4,5,15)
Papiloma Laring Juvenilis
(Multiple Papiloma)
Epidemiologi
Tumor ini
merupakan tumor jinak laring yang paling sering pada anak – anak. Kejadiannya 80% pada usia dibawah 7 tahun tetapi bisa juga
dijumpai pada bayi. Resiko perkembangan
dari papiloma laring pada anak yang ibunya terinfeksi HPV 1 diantara 50 dan 1 diantara
1500 ; 50 % akan terlihat pada anak umur 5 tahun. Tumor yang berkembang pada
saat bayi atau anak – anak sifatnya lebih agresif. Biasanya papiloma tampak
dalam beberapa tahun tahun pertama kehidupan dan beberapa telah dilaporkan
beregresi spontan. Papiloma juvenilis dapat juga dijumpai pada wanita. Papiloma
dianggap disebabkan oleh virus, suatu teori yang disokong oleh observasi bahwa
tampak ada peningkatan insiden papiloma pada bayi yang dilahirkan ibu yang
menderita kondiloma akuminata. Papiloma tampak sebagai pertumbuhan seperti
kutil tunggal dan bisa terletak di tempat manapun dalam laring. Tumor ini
tetapi menyebabkan kerusakan laring.(1,6,11,13,14,15)
Etiologi
Disebabkan
oleh DNA virus dari group Pavopa Virus, yaitu human papiloma virus dan bisa
terjadi bersamaan dengan kondiloma pada ibu, kutil pada kulit. (1,4,6,11,15)
Lokasi
Tumor ini
dapat tumbuh pada pita suara bagian anterior atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau aritenoid. Kadang
– kadang dapat dijumpai juga epiglotis, trakea dan bronkus.(4,7,11)
Diagnosis
a.
Diagnosis
berdasarkan gejala klinis
Gejala
papiloma laring yang utama adalah suara serak, kadang – kadang terdapat pula
batuk. Apabila papiloma menutup rima glotis maka timbul sesak nafas dengan
stridor dan obstruksi saluran pernafasan atas. Karena itu, observasi serak yang
menetap pada bayi atau anak – anak memerlukan pemeriksaan laring. Gejala yang
pertama kali muncul pada anak – anak: afonia (weak cry). (1,4,6,8,11,13,14,15)
b.
Laringoskopi
direk
Di indikasikan untuk menegakkan
diagnosa pada anak – anak dengan suara serak dan tidak dapat dilihat dengan
pemeriksaan umum atau fiberoskop fleksible. (10,14,15)
c.
Laringoskopi
indirek
Laringoskopi indirek terlihat pertumbuhan kutil yang
multipel pada semua bagian laring, pita suara dan plika
ventrikularis, penyumbatan jalan nafas laring dengan derajat yang berbeda.(14,15)
d.
Biopsi
serta pemeriksaan patologik anatomi.
Secara
makroskopik bentuknya seperti buah murbei, berwarna putih kelabu dan kadang –
kadang kemerahan. Jaringan
tumor ini sangat rapuh dan kadang – kadang dipotong tidak menyebabkan
perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini adalah sering tumbuh lagi
setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus dilakukan berulang –
ulang. Secara histologi sering squamous cell carcinoma.
Tumor ini cenderung untuk kambuh dan bisa berubah menjadi keganasan.(1,4,14,15)
Pengobatan
Berbagai macam pengobatan telah tersedia
yaitu:
1. Microlaryngeal excission
dari tumor : berulang
2. Laser: Carbondioxide laser in direct Microlaryngoskopy
Keuntungan penggunaan pembedahan dengan
mengunakan laser:
a. Memungkinkan kita untuk mengankat tumor
jinak atau ganas laring dengan hati – hati, tanpa menimbulkan kerusakan pada
fungsinya.
b. Operasi lebih cepat dengan konsekwensi yang minimal dari trauma akibat operasi
c. Dapat mengurangi penderitaan pasien dengan
lebih sebentar berada di rumah sakit sehingga biaya yang dipergunakan lebih
sedikit.
d. Tidak menimbulkan perdarahan. (1)
Kerugiannya adalah:
a.
Menyebabkan
stenosis selaput laring
b.
Tidak
adanya spesimen yang lengkap untuk pemeriksaan patologi.(1)
Indikasi pembedahan dengan laser
a.
Tumor
jinak yang berada pada mukosa membran (seperti: polip nodul, Reinkkke’s edema,
granuloma) atau berada pada dinding laring (seperti ; kista, fibroma,
amiloidosis)
b.
Papilomatosis
pada anak – anak
c.
Stenosis
laryngotracheal
d.
Laringeal
amiloidosis
e.
Cancer
glotik dan supra glotik
f.
Degenerasi
potensial dari kerusakan epitel: verucae, adult age papilomas
g.
Recurrent
respiratory papilomatosis.(1)
3. Cryosurgery : menghancurkan tumor penyebab
oedem
4. Local aplication dari agen
5. Interferon : human leucocyte
interferon menghasilakn regression dari tumor sehingga dapat mencegah
recurrence.
6. Ultrasound
7. Role of tracheostomy : bila muncul
pada anak – anak dengan akut stridor tracheostomy.(1,4,8,10,11,14,15)
Banyak cara
telah dilakukan untuk mengeluarkan papiloma dengan endoskopi. Keunggulan satu
cara terhadap yang lain tampaknya tergantung pada pengalaman operator. Keamanan
dan efisiensi tindakan untuk mengatasi etiologi yang
diduga virus dengan memberikan faktor transfer atau interferon belum dapat
ditentukan. (1,8,10,14)
Prognosis
Ø Papiloma juvenilis lebih banyak
dalam bentuk multiple dan frekuensi untuk recurrensi lebih besar dibandingkan
papiloma laring pada adult.
Ø Prognosanya jelek pada wanita dengan lesi
multipel. (1,6,7,11,13,14,15)
Papiloma laring adult
(solitary papiloma)
Epidemiologi
Single papiloma biasanya dijumpai pada orang
dewasa. Lebih banyak dijumpai pada laki – laki (4:1) pada umur 20 – 40 tahun. Tumor ini merupakan pre kanker. (1,4,7,11,15)
Etiologi
Disebabkan oleh : human papiloma virus spesifik subtype 16. (15)
Lokasi
1.
2/3
anterior dari vocal cord
2.
Plika
ventrikularis
3.
Komisura
anterior. (9,11)
Diagnosis
a.
Diagnosis
dengan gejala klinis
Gejala klinis yang paling banyak timbul:
hoarseness
atau suara serak.
b.
Laringoskopi
Laringoskopi indirek terlihat pedunkulus, pink, beberapa massa-massa yang berwarna putih dengan permukaan
yang penuh dengan kutil, yang timbul dari ujung vocal cord.
c.
Biopsi
serta pemeriksaan patologi anatomi
Secara histologi :
squamous cell carcinoma. Bentuknya single, ukurannya kecil,
kurang agresif dan tumor dapat kambuh lagi setelah pembedahan dan berubah
menjadi keganasan. (1,6,15)
Pengobatan
1.
Microlaryngeal
excission dari tumor
Recurrence pada
pengangkatan tumor yang tidak sempurna. Dari recurrence akan menjadi malignant.
2.
Carbondioxide laser (5,6,7,10,11,15)
Prognosis
Ø Jelek dan pada pasien harus dilakukan
pemeriksaan ulang setelah 5 tahun post operasi karena besarnya kemungkinan
untuk kambuh dan menjadi maligna.
Ø Paling banyak dijumpai pada laki – laki.
Ø Prognosisnya lebih bagus pada single site
lession dari adult. (1,6,7,11,13,15)
BAB IV
DIAGNOSIS
BANDING
1.
Nodul pita suara (vocal nodul)
Anamnesis
Biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan
suara (korda vokalis) dalam waktu yang lama dengan gejala suara parau dan
kadang – kadang disertai batuk. Biasanya dijumpai pada orang yang berprofesi
sebagai guru atau penyanyi. Sehingga kelainan ini disebut juga dengan singer’s
node.
Pemeriksaan fisik :
Dijumpai nodul pada pita suara sebesar
kacang hijau atau lebih kecil, berwarna keputihan.
Pemeriksaan patologi
anatomi:
Tampak epitel gepeng berlapis yang mengalami
proliferasi dan disekitarnya terdapat jaringan yang mengalami kongesti. (15)
2.
Keratosis laring
Anamnesis:
Gejala yang ditimbulkan penyakit ini adalah
suara parau yang persisten. Selain itu bisa juga ditemukan adanya perasaan yang
mengganjal di tenggorokan.
Pemeriksaan
fisik:
Tampak bercak putih (leukoplakia) pada pita
suara
Pemeriksaan
patologi anatomi
Tampak mukosa laring mengalami pertandukan. (10)
3.
Karsinoma laring
Anamnesis:
Suara serak yang
disebabkan oleh lesi yang mengenai pita suara. Disusul oleh sesak nafas yang
disebabkan oleh tertutupnya jalan nafas oleh tumor dan batuk yang bercampur
darah karena adanya ulserasi pada tumor, serta penurunan berat badan.
Pemeriksaan fisik:
Terdapatnya masa pada
pita suara dengan permukaan yang tidak rata, pada pemeriksaan umum di dapati
pembengkakan kelenjer – kelenjer limfe regional di leher.
Pemeriksaan patologi anatomi:
Gambaran karsinoma sel
skuamousa yang memperlihatkan pembentukkan sejumlah keratin, yang bersifat
difus atau papiler. (9)
BAB V
KESIMPULAN
Papiloma
laring adalah tumor jinak laring yang terbanyak frekuensinya diantara tumor
jinak laring lainnya. Therapi
dari papiloma laring yang kecil biasanya diangkat secara endoskopy, dapat
dilakukan dengan anestesi lokal plus sedasi atau anestesi umum dengan
tubaendotrakea. Sedangkan papiloma laring yang besar memerlukan pendekatan dari
luar, biasanya dilakukan trakeostomi untuk menjamin jalan nafas. Prinsip utama
pembedahan tumor jinak adalah hanya mengangkat tumor dan mempertahankan semua
jaringan normal dan tentunya fungsi laring normal.
Prognosis dari papiloma laring adalah baik apabila
dilakukan pengelolaan yang tepat, cepat dan radikal. Tumor ini mempunyai
prognosis yang baik diantara tumor traktus aerodigestivus.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Adams
GL, Boeis LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamentals of
Otolaryngology). Edisi keenam. Penerbit : EGC. Jakarta ; 1999
2.
Balai
Penerbit FK UI. Tumor Telinga Hidung Tenggorok. Diagnosis dan Penatalaksanaan. Penerbit
: Gaya Baru. Jakarta ; 1989
3.
JPB
Herawaty S, Rukmini S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok.
Cetakan pertama. Penerbit : EGC. Jakarta ; 2004
4.
Soepardi
EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Edisi keenam. Penerbit : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta ; 2007
5.
Mansjoer
A, Triyanti K. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jilid pertama. Penerbit
: Media Aesculapius. Jakarta ; 2001
6.
Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi kedua. Penerbit: EGC. Jakarta; 1997
7.
Hall S,
Colman B H. Disease Of The Nose Throat and Ear. The English Book Of Society;
1969
8.
Stafford
ND, Youngs R. Atlas Bantu THT. Terjemahan Bahasa Indonesia. Cetakan pertama. Hipokrates.
Jakarta ;1993
9.
Soepardi
EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.
Penerbit : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta ; 2001
10. Cody CTR, Kern EB, Pearson BW. Penyakit Telinga
Hidung dan Tenggorokan. Terjemahan Bahasa Indonesia. Cetakan kelima. Penerbit:
EGC. Jakarta ;1993
11. Papilloma laring diunduh dari www.google.com
12. Gambar Papilloma laring skuamosa diunduh dari www.google.com
13. Papiloma laring diunduh dari www.klikdokter.com
14. Papiloma laring pada anak diunduh dari www.kalbe.co.id
15. Anastesi Umum pada Penatalaksanaan Papiloma
Laring Secara Bedah Mikrolaring diunduh dari
library.usu.ac.id/download/fk/tht-sitihajar.pdf
No comments:
Post a Comment